Arsip untuk Oktober 28th, 2008




GARA-GARA BOLA : Belajar Menikmati Kesalahan

 

 

Ada Sisipan Menghapus Sterotype Transexual itu Lemah

 

 

Film ini di awal-awal agak boring, dan saya sempat berprasangka jelek sambil menebak-nebak ending cerita. Pemain yang menjadi tonggak utamanya: Junot dan Winky tetap menjaga kualitas akting mereka. Winky terlihat berbeda dari akting-akting seriusnya selama ini. Sementara Junot, penampilannya agak baru di film ini. Kali ini, dia agak ‘nakal’ dan penggoda. Aktingnya yang jujur (entah memerankan diri sendiri atau mendalami karakter), masih bolehlah, masuk ke dalam karakter Heru. Tapi menurut saya,setelah film ini Junot juga mencoba peran-peran lain yang berbeda.

 

Gambar-gambar sinematografi berusaha natural dan tidak berlebihan. Tidak terlalu memaksa dengan gambar-gambar goyang dombret untuk mengesankan keluar dari mainstream movie. Paling tidak, karya debutan sutradara baru ini, gambar-gambarnya tidak membuat saya terganggu dan bisa saya nikmati, meski beberapa agak gelap dan satu dua shot-shot zoom in terasa mengagetkan.

 

Ada satu yang saya tangkap dari film ini, yang berbeda dari film lain. Peran kaum transexual, yang biasanya ditampilkan hanya sebagai ‘pelengkap’ untuk menambah tawa , atau  bhkan bahan hinaan, tidak nampak. Kebalikannya malahan. Para kaum transexual diperlihatkan bahwa mereka juga punya kekuatan untuk menggertak para lelaki maupun perempuan. Penampilan tokoh ibu Kos (diperankan Amink), terasa begitu punya kekuatan di hadapan anak kosnya yang walaupun cakep tapi tetap saja, dia menagih haknya (meminta uang kosnya dibayar) dan tidak tergoda oleh tampan. Begitu pula kekuatannya menghadapi para penagih hutang, terasa sekali dia bisa mengusai mereka. Meski beberapa transexual lain juga tampil, tapi tetap tak ada perolokan buat mereka.

 

Selebihnya secara jalan cerita, meski tidak terlalu membuat saya terpingkal, tapi paling tidak saya masih nyaman menontonnya. Sebuah film remaja yang menghadirkan tema yang berbeda. Kritik saya adalah satu adegan kolokan sepasang anak muda yang ‘belajar menjadi sepasang suami istri’ itu menganggu saya. Kalaupun memang harus ada untuk menguatkan karakter atau cerita, sebaiknya shot-shotnya diolah

lagi agar lebih baik.

 

Ternyata ending cerita tidak terduga. Penyelesaian masalah yang sebenarnya cukup pelik -terbukti konfilk utama yang berliku selama tengah cerita, ditambah  konflik pendukung lain yang tak kalah rumit. Namun bisa diselesaikan hanya dengan satu adegan. Sebenarnya saya agak kecewa, karena tidak sesuai sama ekspektasi. Namun saya berusaha menghargai pilihan penulis skenario dan sutradara. Secara keseluruhan, film ini bisa menjadi film remaja pilihan dibanding film-film remaja lain yang tidak jelas. Pelajaran saya dari GARA–GARA BOLA ini, waktu kita terjebak dalam satu kesalahan, kita harus bisa menikmatinya dulu sebagai konsekuensi. Lalu pikirkan solusi dan jangan kaget jika solusi itu tidak sesuai ekspektasi. Pesan saya jika menonton film ini nanti, jangan terlalu banyak men-judge banyak hal di awal cerita. Nikmati saja, dan bagian akhir, kita akan belajar menerimanya.

-Ez- 

 

 

 

Add a comment Oktober 28, 2008

Halaman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

Oktober 2008
S S R K J S M
    Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Pos Berdasarkan Bulan

Posts by Category

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.