PEREMPUAN YANG PUNYA SEGUDANG CERITA….
Oktober 26, 2008
rerecheezade

Mataku terpaku pada deretan vcd di hadapanku, yang sengaja ku cari untuk peneman rasa sepi hari-hariku di Makassar…..Vcd ini terletak di rak paling bawah, desain covernya yang biasa membuat tak ada mata yang tertarik membelinya….Namun aku tertarik pada tulisan “Perempuan punya cerita” kisah apa yang mereka punya, aku juga perempuan dan hidupku juga bercerita…pasti ada yang lebih dari hanya sekadar cerita dan aku memutuskan membelinya.
Seorang teman kantor yang berbeda kelamin denganku mencibir, mempertanyakan guna aku membeli vcd itu….aku katakan ini film bagus…disahutnya “emang perempuan punya cerita apa?” aku termenung…….
film ini dibuka dengan CERITA PULAU
Cerita seorang bidan di daerah pesisir yang lebih punya nurani daripada dokter di rumah sakit yang terkadang rela menelantarkan pasiennya. Namanya Sumantri….yang dimainkan indah oleh Rieke, namun entah kenapa saya kurang tersentuh oleh akting rieke kali ini. Yang menarik justru adalah karakter perempuan cacat mental rachel maryam….Namun cerita perempuan disini agak tertutup dengan penggambaran dua lelaki yang ada. Penggambaran lelaki yang merangkai cerita sang perempuan…Yang satu, Bajingan busuk yang justru bangga bisa memperkosa Bulan (karakter yang dimainkan Rachel) namun ditengah keperkasaanya menggagahi ternyata dia tetap lelaki pengecut yang tak berani bertanggung jawab..sungguh potret lelaki jaman sekarang. lelaki yang satu adalah suami sang bidan yang tak rela kehilangan istrinya hingga menjual semua harta miliknya untuk kesembuhan sang istri. Lelaki yang masih ada namun segera akan punah tergerus jaman.
Cerita kedua yang juga ditulis oleh Vivian Idris
Cerita Jogja
Sebuah komedi cinta satir yang dibalut dengan rasa ingin tahu, yang akhirnya membawa sekelompok remaja di kota jogja menemukan arti cinta, pengkhianatan dan persahabatan. Namun rupanya semua perjalanan hidup belum membuat mereka jera terhadap SEKS. Kirana Larasati yang selalu bermain sebgai perempuan cengeng di sinteron tampil gagah membela temannya yang hamil diluar nikah, namun akhirnya ketegasan sikapnya kalah oleh romantise mahasiswa jakarta yang ternyata seorang jurnalis yang ingin membongkar perilaku seks mereka….keperawanan kini hanyalah sekadar sesajen untuk meraih cinta sesaat. Kisah ini seharusnya membuak mata orang tua tentang pergaulan anak mereka, tak semua yang berlindung di balik pintu itu baik, dan tak semua kucing tak punya naluri membunuh. Yang disayangkan, saat adegan romantis Fauzi Baadila dan Kirana berkeliling jogja kenapa yang diputar lagu Jepang, kenapa bukan gending jogja? Satu lagi ketidaksukaan saya terhadap Lembaga Sensor Film ketika adegan cinta Kirana melepas keperawanannya hanya digantikan lampu mati padahal menurut saya itulah adegan yang paling penting. Bagaimana seoarng perempuan justru rela memberikan miliknya yang paling berharga….Namun inilah cerita yang paling mengulik rasa ingin tahu saya….Apakah tokoh yang diperankan Kirana hamil?
Cerita Ketiga….kini mulai ditulis oleh Melissa Karim
Cerita Cibinong
Cerita ini didominasi oleh bahasa sunda yang dimainkan apik oleh Santi maupun Sarah Sechan. Cerita seorang perempuan yang terpaksa mencari nafkah sebagai penjaga Wc sebuah klab dangdut demi menafkahi pria pengangguran yang dipilihnya sebagai kekasih serta anaknya yang masih duduk di bangku SMP. Namun justru pria macam inilah yang menjadi benalu dalam kehidupan ibu dan anak ini. Predator yang justru akan makin dilindungi ketika RUU pornografi nanti jadi disyahkan, karena mereka akan bersembunyi dibalik moleknya tubuh gadis belia yang meningkatkan birahi mereka. Cerita ini luar biasa karena mampu memotret kehidupan warga pelosok yang selalu silau akan hingar bingar jakarta. Namun Santi justru tampil sebagai perempuan un eduacated yang ingin anaknya selalu maju..sekolah hingga lulus baru bekerja. Namun sekali lagi cerita ini menggugah kewaspadaan kita agar selalu berhati -hati akan predator anak yang selalu menyamar menjadi teman, itulah pentingnya pendidikan bagi para orangtua di pelosok-pelosok. Si kecil yang sering saya liat di sinetron juga tampil apik, sebagai gadis belia lugu yang masih belum tau kejamnya dunia. Namun yang sedikit menganggu ketika adegan Sarah sechan menyanyi terlihat sekali dia lipsync.
Cerita keempat…..Cerita favorit saya
Cerita Jakarta
wingky hanya bermain sekitar 30 detik tanpa dialog hanya memejamkan mata. dan kemudian cerita beralih ke seorang perempuan tionghoa yang berpembawaan halus diperankan apik oleh Susan Bachtiar. Shes amazing, meskipun ini penampilan pertamanya (saya rasa….) di layar kaca namun peran seorang ibu telah melekat di dirinya meski dia sendiri belum punya momongan. Susan memerankan sebuah stigma bahwa perempuan adalah gen pembawa….pembawa penyakit….pembawa nasib buruk…..pembawa sial…..bahkan di China ratusan bayi perempuan dibuang karena terlahir dengan jenis kelamin yang salah….sungguh absurd….
Susan merupakan HIV positiv yang ditularkannya dari sang suami yang rupanya anak seorang priyayi namun berpikiran picik. Dia punya anak perempuan bernama Bebe yang dilimpahi kasih sayang maupun materi namun Bebe terancam direbut oleh sang mertua. Susan harus bertarung dengan dilema merawat anak tanpa pekerjaan ketika penyakit semakin menahun atau mengorbankan diri demi sang buah Hati. Susan akhirnya memilih yang terbaik yang bisa dilakukannya. Kekuatan cerita ini adalah sang ibu…dia cuma perempuan lemah namun justru kerentaannyalah yang membuat saya mampu menitikkan air mata untuk pertama kalinya di film ini….perempuan itu mengingatkannya pada mama saya. Perempuan luar biasa yang tak pernah membiarkan anaknya merasakan kesedihan atau kesukaran.
Anda perempuan? anda lelaki? belajarlah dari film ini
Anda seorang ayah? anda seorang ibu? simak baik-baik pergaulan anakmu
Anda penikmat film? resapi visual serta cerita film ini yang saya percaya akan memperkaya batinmu….
(Perempuan tak selalu punya cerita namun saya memilih untuk menggores pena dan menulis cerita saya sendiri)
_R_
Entry Filed under: Uncategorized
Tinggalkan Balasan
Trackback this post | Subscribe to comments via RSS Feed


